KURSUS KOMPUTER DAN BAHASA INGGRIS ANAK KEBUTUHAN KHUSUS (ABK)

MENGAPA ANAK KEBUTUHAN KHUSUS HARUS DI BERIKAN PELATIHAN KETRAMPILAN KHUSUS

Selama ini penelitian selalu menekankan bahwa masalah slow learner, Boderline dan PDD noss selalu ditandai dengan adanya masalah keterlambatan  bicara pada anak usia balita. Padahal masalah tersebut merupakan masalah yang tidak hanya menyebabkan anak mengalami keterlambatan bicara tetapi lebih kepada masalah adanya hambatan pada perkembangan tahapan proses kognitif. Hambatan pada tahapan perkembangan kognitif disebabkan karena aliran neurotransmitter yang kurang baik sehingga mengganggu kecepatan proses pada fungsi kognitif. masalah keterlambatan proses tersebut berakibat pada semua kegiatan pembelajaran di sekolah.

Walaupun masalah ini dianggap sebagai masalah keterlambatan perkembangan pada masa anak-anak tetapi standart kompetensi sekolah mengharuskan pencapaian nilai diatas KKM, kondisi ini sulit di capai setelah anak menginjak usia 14 tahun dan tidak mengalami kemajuan yang berarti. Masalah ini harus cepat diatasi sebelum menjadi masalah psikologis yang jauh lebih kompleks. Oleh sebab itu klinik psikoneurologi Hang lekiu tidak hanya memberikan pelayanan untuk terapi dan home schooling tetapi juga kursus. Sebenarnya pemberian kursus untuk anak kebutuhan khusus lebih mengutamakan pada kemampuan ketrampilan anak agar bisa hidup  mandiri di masa depan.    Inti permasalahan mengapa pemberian kursus dianggap penting karena masalah slow learner bukanlah dianggap sebagai masalah kesulitan belajar biasa, tetapi harus dilihat dari sudut pandang neurobiologis. Keterbatasan pada fungsi neurobiologis menyebabkan anak kebutuhan khusus tidak dapat menguasai sejumlah ketrampilan. anak kebutuhan khusus sering mengalami kegagalan untuk mengikuti sejumlah kursus dalam kelas umum. untuk itu klinik psikoneurologi hang lekiu mengembangkan sistem pengajaran ketrampilan komputer multi media dan kemampuan bahasa ingrris.

 

SIAPA SAJA YANG TERMASUK ANAK KEBUTUHAN KHUSUS (ABK)

Anak kebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang sejak awal masa perkembangan mengalami masalah pada fungsi perkembangan dan adanya cacat yang bersifat menetap. seperti yang kita ketahui anak kebutuhan khusus memiliki tingkatan kecerdasan sehingga mereka ada yang dapat menerima pelatihan dan pendidikan ada yang tidak. untuk itu penting sekali dilakukan pemeriksaan apakah anak kebutuhan khusus itu dapat mengikuti kegiatan tersebut melalui test psikologi. anak kebutuhan khusus yang dianggap dapat mengikuti pelatihan dan pendidikan adalah anak kebutuhan khusus yang tergolong Slow learner, Borderline dan PDD noss dengan IQ sekitar 70-90. anak kebutuhan khusus dengan IQ tersebut dapat digolongkan sebagai anak dengan taraf kemampuan dibawah normal atau setaraf dengan kemampuan anak yang mengalami border line (low average).  Anak kebutuhan khusus yang mengalami  slow learner biasanya pada masa batita memiliki kesulitan di dalam kemampuan berjalan dan berbicara, tetapi kemampuan ini akan berkembang seiring dengan bertambah usianya hanya saja pada kecepatan prosesnya tetap menunjukan keterlambatan.

Anak yang mengalami slow learner pada umumnya memiliki intelegensi 70-85 atau yang biasa disebut dengan mild mental retarded atau digolongkan dalam taraf low average atau boderline.  Untuk itu sejauhmana kemampuan otak dalam memproses informasi dapat diukur dengan alat test baku seperti test WISC.

 

gmbr 2
Gambar 1. Penggolongan kecerdasan berdasarkan skor IQ (https://en.wikipedia.org/wiki/IQ_classification)

 

Dalam tabel diatas dapat terlihat penggolongan taraf intelegensi.  Anak yang digolongkan slow learner memiliki taraf intelegensi antara 80 sampai 89.  Kondisi ini secara otomatis menggambarkan kemampuan yang berbeda dengan taraf intelegensi di atas maupun di bawahnya.

dalam gambar dibawah ini dijelaskan bahwa anak yang mengalami slow learner selalu ditandai dengan proses keterlambatan perkembangan. Masalah ini bersifat sementara dan akan mengalami perbaikan setaraf untuk mulai mengejar keterlambatannya saat anak mencapai usia 14 tahun. Pada usia 14 tahun anak pada umumnya sudah  memiliki kecepatan proses pengolahan informasi dan  kemampuan fungsi kognitif yang sesuai dengan standart usianya.

 

 

g 1
Gambar 1. Bicara, bahasa, dan keterampilan komunikasi (http://www.slideserve.com/linus-jenkins/speech-language-and-communication-skills-continue-to-be-central-to-development-and-learning)

 

Dalam gambar diatas dapat terlihat bahwa kemampuan bahasa dan komunikasi berkaitan dengan sejumlah kemampuan. Anak yang memiliki kemampuan bicara, berbahasa yang baik jelas akan menunjukan kemampuan membaca, menulis, bermain, interaksi sosial, belajar, pengelolaan emosi, kemampuan problem solving sampai dengan kemampuan berpikir.

Anak yang telah memiliki kesiapan memasuki dunia sekolah pada umumnya sudah memiliki kemampuan bicara, berbahasa dan berkomunikasi dengan baik. Kondisi ini menggambarakan bagaimana pentingnya mendorong anak pada usia batita untuk dapat mengembangkan kemampuan berbahasa pada usia prasekolah. Melalui kemampuan berkomunikasi dan berbahasa sudah tentu seorang anak akan mengembangkan kemampuan fungsi kognitif lainnya. Kondisi ini secara otomatis akan memperlihatkan tolak ukur kecerdasan seorang anak

 “Mengapa Anak Slow Learner Memiliki IQ Yang Rendah? 

Pada intinya semua otak berfungsi aktif di dalam memproses bahasa. Kedua belah otak saling membantu di dalam mengubah konsep bahasa menjadi suatu bentuk pemahaman dan di rekam di dalam memori. Proses berfungsinya otak terjadi secara bertahap dimulai dari kemampuan pada fungsi attention, memori, pemahaman, kontrol perilaku, analisa, sintesa sampai dengan kreatifitas berpikir. Oleh sebab itu anak yang masalah slow learner memiliki taraf kecerdasan intelektual yang rendah bukan berarti anak mengalami kerusakan pada bagian otaknya. Kondisi ini lebih kepada adanya gangguan sehingga menghambat tahapan perkembangan fungsi kognitif.

Masalah hambatan pada tahapan perkembangan fungsi kognitif sangat dipengaruhi oleh kecepatan dalam memproses informasi. Kecepatan di dalam memproses informasi inilah yang diukur sebagai taraf kecerdasan atau IQ.  Oleh sebab itu anak dengan slow learner memiliki taraf intelegensi yang rendah sebagai penggambaran kecepatan dalam kerja memproses working memori.

 

Transley dan R. Gulliford (1971: 4) menjelaskan bahwa karakteristik siswa Slow learner

(siswa lambat belajar) adalah sebagai berikut:

  1. Keadaan fisik pada umumnya sama dengan murid-murid normal. Dengan melihat keadaan fisiknya saja tidak dapat dibedakan mana yang normal dan mana yang lambat belajar. Para ahli baru dapat membedakan antara murid belajar dengan murid normal setelah mengadakan pengamatan dan tes psikologi.
  2. Kemampuan berfikirnya agak rendah, sehingga lamban dalam memecahkan masalah-masalah yang sederhana. Hal ini menyebabkan mereka kalah bersaing dengan teman-temannya yang normal.
  3. Ingatannya agak lemah dan tidak tahan lama. Mereka lekas lupa dan biasanya tidak mampu mengingat-ingat suatu peristiwa yang terjadi tiga tahun yang lewat. Dalam proses belajar mengajar di sekolah, apa yang diterangkan oleh guru hari ini biasanya satu minggu kemudian sudah terlupakan. Lebih lagi dalam mengingat-ingat isi buku pelajaran yang telah dipelajari sendiri. Kalau murid-murid normal dapat mengingat isi pelajaran lebih kurang 50% setelah membaca dua kali, maka murid lambat belajar hanya mampu mengingat 25% saja.
  4. Dalam menuntut pendidikan di sekolah dasar banyak yang mengalami putus sekolah. Enam puluh persen di antara murid-murid yang putus sekolah tergolong murid yang lambat belajar. Lebih dari separoh nilai rapornya merah. Kalau guru mengeahui masalahnya dan selanjutnya memberikan bimbingan dan bantuan seperlunya maka putus sekolah 60% itu dapat dikurangi. Biarpun agak terlambat, mereka akan dapat menyelesaikan pendidikannya di sekolah dasar. Setelah tamat sekolah dasar, mereka dapat diarahkan untuk memasuki balai latihan atau sekolah kejuruan yang lebih singkat.
  5. Dalam kehidupan di rumah tangga, murid lambat belajar masih mampu berkomunikasi dan bergaul secara baik dengan saudara-saudaranya. Mereka dapat belajar sendiri melakukan pekerjaan-pekerjaan dalam tata kehidupan keluarga.
  6. Emosinya kurang terkendali, suka mementingkan diri sendiri. Inilah sebabnya mengapa sering timbul perselisihan dengan teman-temannya. Perasaan mudah terpengaruh oleh orang lain dan lingkungannya. Tidak mempunyai pendirian yang kuat.
  7. Murid lambat belajar dapat dilatih beberapa macam ketrampilan yang bersifat produktif. Mereka mampu melakukan pekerjaan sendiri dengan tanggung jawab sepenuhnya.

 

Dari karakteristik di atas dapat terlihat bahwa anak yang mengalami slow learnermasih memiliki fungsi kognitif yang memadai untuk dilatih dan dikembangkan secara optimal.  Arti kata memadai di sini kondisi otak secara struktural tidak mengalami kerusakan secara permanen tetapi lebih disebabkan kepada keterlambatan perkembangan yang akhirnya menghambat tahapan fungsi kognitif yang ada.

 

Apa Saja Tahapan Proses Kognitif Yang Dapat Menghambat Fungsi Kognitif Pada Anak Slow Learner?”

 

Sebenarnya anak yang mengalami masalah slow learner tidak hanya mengalami masalah pada kemampuan recall memori yang berhubungan dengan daya tangkap tetapi hampir pada semua proses kognitif yang terjadi. Kemampuan attention berada pada tahapan paling awal dalam suatu  tahapan proses kognitif. Sehingga proses tersebut tampak jelas pada saat anak memasuki dunia sekolah.

 

 

g 3
Gambar 3. Tahapan Proses Kognitif A. Melani, (2011). *Keterangan LP: learning process

TERDAPAT TUJUH KARAKTERISTIK GANGGUAN DARI ANAK KESULITAN BELAJAR SEPERTI: SHORT ATTENTION SPAN, DIFFICULTY FOLLOWING DIRECTIONS, SOCIAL IMMATURITY, DIFFICULT WITH CONVERSATION, INFLEXIBILITY, POOR PLANNING AND ORGANIZATIONAL SKILLS, ABSENTMINDEDNESS, CLUMSINESS, LACK OF IMPULS CONTROL (SMITH & STRICK, 1999). TETAPI JIKA DITELITI LEBIH CERMAT TERNYATA SUMBER PERMASALAHAN PADA KASUS ANAK KESULITAN  BELAJAR DAPAT DISEBABKAN DARI ADANYA HAMBATAN PADA FUNGSI KOGNITIF, GANGGUAN AFEKTIF DAN  PENYESUAIAN PERILAKU. HANYA SAJA SUMBER PERMASALAHAN TERSEBUT SULIT DITELUSURI, KARENA SAAT DITEMUKAN ANAK SUDAH MENGALAMI PERMASALAHAN YANG KOMPLEKS. KOMPLEKSITAS TERSEBUT TERJADI DARI SEJUMLAH VARIABEL  LATEN YANG SULIT DI UNGKAP, APALAGI BILA ANAK TELAH MENGALAMI DISTORSI KOGNITIF (A.MELANI, 2006 DALAM A. MELANI, 2011). OLEH SEBAB ITU PENTING UNTUK MELIHAT PARAMETER YANG DAPAT MENGUNGKAP KETIGA GANGGUAN TERSEBUT SECARA TERPISAH, PARAMETER INI MENGACU PADA ASUMSI BAHWA FUNGSI KOGNITIF MERUPAKAN KONTROL DARI KETIGA FUNGSI YANG MENGALAMI MASALAH (A.MELANI, 2011). PARAMETER INI MERUPAKAN PENGEMBANGAN DARI TAKSONOMY BLOOM (ANDERSON, & KRATHWOHL, 2001) YANG  DIGUNAKAN UNTUK EVALUASI BELAJAR PADA ANAK SLOW LEARNER UNTUK MELIHAT SEJAUHMANA ANAK MENGALAMI PERMASALAHAN

1. MASALAH KONSENTRASI

 

g4
Gambar 4. Tahapan konsentrasi dan membaca A. Melani, (2011).

 

 Matlin (2002) menjelaskan bahwa kosentrasi dapat dicapai jika subyek sampai pada tahapan fase encoding yaitu  fase memori yang menekankan pada proses saat pertama kali menerima dan menyimpan informasi. Pandangan ini menjelaskan dibutuhkannya tahap kosentrasi sebagai awal penentu keberhasilan proses pembelajaran.

Tahapan awal kosentrasi, seorang anak akan diupayakan untuk memiliki motivasi dan minat, khususnya dalam membaca. Menurut Schunk, Pintrich & Meece (2008) Minat adalah suatu dorongan internal untuk melakukan sesuatu. Hilgard dalam A. Melani, 2011 menekankan bahwa minat akan membuat anak dapat menikmati situasi belajar.

Pengkondisian lingkungan belajar yang nyaman merupakan cara yang digunakan untuk mencapai daya tahan kosentrasi yang diharapkan secara bertahap. Oleh sebab itu faktor internal dan ekstrenal harus dihadirkan secara bersamaan untuk menimbulkan motivasi dalam belajar. Dimana anak mampu memberikan makna dengan mengkontrol proses kognisinya sendiri dan situasi yang mendukung proses transformasi tersebut.

 

2. MASALAH MEMORI

Memori adalah kemampuan menyimpan sejumlah informasi dalam ingatan. Seseorang akan awareness terhadap suatu informasi jika telah memiliki sejumlah informasi di dalam ingatannya. Orang yang memiliki memori yang baik sudah tentu memiliki kosentrasi yang bagus karena working memori melibatkan empat fungsi dasar, yaitu: AttentionEncodingStorage, Retrieval.

Daya tahan kosentrasi berkaitan juga dengan lamanya waktu yang dibutuhkan dalam menyimpan data dari Short Term Memori (STM) ke Long Term Memory (LTM). Dimana STM yang buruk akan menyebabkan data cepat hilang 50 % setelah 6-18 detik pada bacaan 96 detik dibandingkan di LTM (Eggen & Kauchak, 2004). Oleh sebab itu dibutuhkan strategi metamemori untuk dapat melatih kemampuan switching yang  menghubungkan antara informasi yang baru dengan yang lama (Eysenck, 2006). Selain itu digunakan juga bentuk pronouncation di dalam menyimpan informasi.   Proses pengulangan diperlukan sebagai upaya dalam mempertahankan kosentrasi untuk mendapatkan  informasi dari pengalaman masa lalu, mendorong mendapatkan pengetahuan baru, memecahkan masalah, formulate, relate dan aktivitas dalam mencapai tujuanPengulangan terbukti  memperkuat kerja komponen di dalam working memori, yaitu: Centra executivePhonological loop dan Visuo spatial skatchpad. Dimana informasi yang masuk tidak hanya diproses ke dalam sensasi tetapi harus dirubah ke dalam pemaknaan.

Proses memori juga melibatkan proses rekontruksi, yaitu proses memperbaiki  dan mengorganisasikan informasi baru dengan informasi lama agar menjadi pengetahuan seluas-luasnya melalui proses kerjasama dari proses semantik dan episodek. Seperti proses episodek yang berkaitan dengan  perjalanan hidup seseorang atau outobiografis seseorang sedangkan proses semantik lebih menekankan ingatan dari  informasi dan pengetahuan  yang baru dengan yang pernah ada sebelumnya. Oleh sebab itu keberhasilan dalam melatih memori akan berpengaruh pada kemampuan penalaran seseorang (Kyllone & Christal, 1990).

Masalah recall memori dan recall comprehension berkaitan dengan masalah pada proses inhibtion pada executive function. Seperti yang dijelaskan diatas bahwa faktor emosional mempengaruhi aktivitas neurotranmiter dalam working memori.

Kemampuan recall memori dan recall comprehension merupakan suatu proses yang berhubungan di dalam working memori. Kemampuan recall memori merupakan bagian dari  fluid intellegency yang bersamaan dengan kemampuan attention, verbal fluency, humor dan self awareness. Kemampuan fluid intelligence merupakan bagian fungsi kognitif yang dapat dikembangkan kemampuannya melalui proses pelatihan secara prosedural. Proses pelatihan secara prosedural berkaitan dengan proses pelatihan yang sifatnya automatisasi bila dilatih secara terus menerus. Oleh sebab itu kemampuan fluid intellegency inilah yang pada akhirnya akan  membedakan kecepatan proses otak pada setiap anak.

Masalah yang dialami oleh anak dengan slow learner terjadi apabila fungsi attention, memori yang termasuk dalam bagian fluid intellegency lemah sehingga lambat di dalam memproses informasi. Akibatnya anak slow learner membutuhkan waktu yang lebih lama di dalam melakukan proses recall comprehension. Karena proses recall comprehension membutuhkan kemampuan untuk memanggil memori dan menarikattention.

 

Kemampuan recall comprehension merupakan bagian dari crystallized intellegence yang berfungsi di otak kiri. Kemampuan recall comprehension termasuk dalam kemampuan verbal. Oleh sebab itu pada test WISC anak slow learner akan memperlihatkan skor yang rendah, dengan nilai skor di bawah rata rata normal 70-90 (low average atau Boderline).

Kondisi diatas menjelaskan bahwasanya kedua fungsi otak kanan dan kiri tidak bisa bekerja sendiri tetapi harus bekerja sama untuk membentuk suatu proses kognitif yang lebih kompleks.

Oleh sebab itu proses pelatihan yang diberikan pada anak  slow learner pada awalnya harus bersifat prosedural dibandingkan  knowledgenya. Proses prosedural dapat memperbaiki kemampuan memori dan attention (fluid intelligence). Baru setelah anak slow learner memiliki kemampuan attention dan memeory yang baik barulah dapat masuk ke dalam kemampuan belajar. Anak yang sudah mampu belajar akan memiliki kemampuan recall comprehension (crystal intellegence) yang baik. Kondisi ini sangat penting sebagai dasar awal tahap perkembangan fungsi otaknya sbelum anak mengembangkan kemampuan pada tahap yang lebih tinggi (analisa dan sintesa).

 3. MASALAH PEMAHAMAN (Comprehension)

Kemampuan pemahaman adalah proses dalam memberikan makna secara subyektif terhadap suatu pengalaman. Proses ini sudah tentu tidak hanya membutuhkan kemampuan kosentrasi tetapi juga informasi proses psikologi, sehingga penghayatan terhadap suatu pengalaman dapat menjadi subyektif bagi setiap orang. Melibatkan kondisi intrapersonal merupakan bagian dari kontrol awareness di dalam diri dengan kemampuan pemahaman kognitifnya. Seseorang yang memiliki kontrol awarenesssudah pasti dapat menentukan posisi, mengambil dan memberikan makna dari berbagai pengalaman di lingkungannya, sehingga dia dapat menginterprestasikan situasi sosial dengan baik.

Dalam kenyataanya fungsi eksekutif yang terdiri dari monitoring, evaluate fakta, indentifikasi bertujuan untuk mengkontrol secara alami dalam proses kognitif  dengan kapasitas energi yang terbatas (Brown dalam A. Melani, 2011). Sehingga dibutuhkan strategi metakognitif  sebagai esecutive control yang dapat  melatih automatisasi seperti kemampuan phonological awareness dan decoding. Kondisi automatisasi diperoleh sebagai suatu  kontrol proses kognitif di bawah sadar yang  dapat  mengurangi beban kontrol esekutif.

Seperti halnya anak yang membutuhkan waktu lebih lama dan mudah lelah dalam memahami tugas bacaan yang diberikan karena belum memiliki strategi metakognitif.  Self monitoring ternyata  dapat diperoleh ketika anak selalu menggunakan strategi di dalam membaca. Markman’s studi klasik yang mengindikasikan pada umumnya anak kecil sulit memahami bacaan karena anak kecil tidak dapat memonitor pemahaman mereka. Orang dewasa  yang memiliki kelemahan di dalam monitoring pemahaman akan  memiliki kemampuan membaca yang lambat, sering melakukan looking back dan rereading dalam encountering semantic, syntactic atau pengetahuan factual violations pada sentence level. Kondisi ini berbeda dengan anak yang memiliki kemampuan pemahaman yang baik jelas akan memperlihatkan kemampuannya dalam listening comprehension, good comprehension,  lebih konsisten dan efektif dalam memonitoring bacaan (Kinnunen, Vauras & Niemi, 1998).

                     4.MASALAH KENDALI PERILAKU

Tingkah laku adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kegiatan atau aktivitas sesuai dengan tujuan dan harapan sosial. Sejumlah teori behaviouristik menjelaskan bahwa dalam menerapkan suatu perilaku dibutuhkan namanya proses assosiatif antara proses sensorik dan proses motorik (Thondrike, 1932 dalam Thorndike & Hagen, 1987). Dalam proses sensorik ini dibutuhkan proses kognitif yang melibatkan suatu pemrosesan informasi  yang canggih dan jauh berbeda dengan  teori asosiasi sederhana (Hilgard, 1953). Dalam hal ini  suatu proses sensorik jelas terbentuk dari pemahaman masa lalu dan pengetahuan yang telah dipelajari sampai terbentuknya self monitoring untuk mengarahkan diri melakukan sensasi dan persepsi pada stimulus yang dikehendaki.

g 5
Gambar 5. Skema hubungan proses kognitif, memori, pemahaman dan perilaku yang dimediator oleh fungsi self awareness (A. Melani, 2011)

Oleh sebab itu keberhasilan tahapan ini menekankan sejauhmana anak memiliki  pemahaman yang baik terhadap lingkungan sehingga anak memiliki self regulationsebagai wujud dari kontrol awareness. Perilaku tidak hanya membutuhkan self awareness tetapi lebih kepada self regulation yang terdiri dari tahapan planningsampai dengan monitoring proses kognitifnya (Reynold, Weiner, & Miller, 2009). Sampai terbentuknya perilaku , dibutuhkan proses executing dan proses implementasi. Proses esecutive adalah kemampuan untuk mengadaptasikan perilaku menjadi suatu kebiasaan di bawah sadar. Implementasi adalah kemampuan untuk mengadaptasikan perilaku sesuai  situasi.

Anak yang memiliki pemahaman yang baik ternyata memiliki kemampuan menulis yang baik (Englert, Raphael, Fear dan Anderson1988,dalam Reynold, Miller & Weiner 2009), karena anak seperti telah memiliki  memiliki awareness terhadap apa yang ditulis,  kondisi ini berbeda ketika anak telah memiliki pemahaman yang baik, anak seperti memiliki penjiwaan disaat menulis rangkuman, memiliki self regulation dalam menulis.

Melani (2011) melihat anak yang telah terbiasa menggunakan teknik metakognitif di dalam membaca, mampu membuat struktur menulis rangkuman yang bagus. Kondisi jelas berbeda pada anak kesulitan belajar pada umumnya terlihat tetap memiliki kesulitan di dalam teknik menulis (Durst, 1989 dalam Reynolds, Miller & Weiner, 2009). Kemampuan menulis merupakan monitoring dari proses berpikir. Karena dalam kegiatan menulis membutuhkan  empat bagian dasar dari proses mental yaitu: Planning, translating idea, imajinasi kata, reviewing dan monitoring process (Flower & Hayes dalam Reynold, Miller & Weiner, 2009). Keempat bagian dasar ini membutuhkan kontrol perilaku atau self regulation dalam memonitoring menyesuaikan antara apa yang dipahami oleh penulis dan apa yang hendak disampaikan dalam tulisan oleh penulis. Englert, Raphael, Anderson, Anthony, Stevens (1991 dalam Reynolds, Miller & Weiner, 2009).

5.MASALAH ANALISA DAN SINTESA 

Setelah seorang anak  memiliki kemampuan self monitoring, self awareness dan self regulation.  Anak baru dapat melatih strateginya dalam berpikir. Proses berpikir sehari-hari selalu melibatkan usaha untuk melakukan problem solving secara memuaskan. Hanya saja kemampuan problem solving lebih lambat sampai dewasa sehingga membutuhkan strategi dalam berpikir seperi kemampuan analisa dan sintesa yang baik (A.Melani, 2011).

Selain itu strategi berpikir berguna dalam membantu memperbaiki kemampuan dasar kognitif pada anak. Setelah masuk ke dalam tahapan analogi barulah sesorang mampu membentuk skema sebagai kemampuan merekontruksi stimulus dan akhirnya tersimpan kedalam LTM. Proses pembentukan skema di dalam LTM didasari pada teori gestalt, yaitu: Hukum Pragnanz, Similarity Good continuation, Proximity, Common fate, Familiarity, Common region, Uniform connectedness, Synchrony.Kemampuan analisa dalam tahapan proses kognitif termasuk kemampuan di dalam mendiferensiasi sebagai kemampuan membedakan permasalahan dalam bacaan dengan menggaris bawahi inti kalimat tersebut dalam suatu paragraf (A.Melani, 2011).

 

g 6
Gambar 6. Proses lateralisasi otak

Manusia memiliki otak yang tersusun atas dua bagian yaitu otak bagian kiri dan otak bagian kanan. Kedua bagian otak kini dikenal dengan sebutan hemisfer, kedua hemisfer memiliki fungsi yang berbeda walaupun secara struktural memiliki kemiripan. Seperti gambar dibawah terlihat bahwa kedua belahan memiliki fungsi yang berbeda. Hemisfer kiri berfungsi dalam kemampuan matematika, bahasa, membaca, menulis, logika, urutan, sistematis, analitis, sedangkan hemisfer kanan berfungsi dalam kemampuan kreativitas, konseptual, inovasi, gagasan, gambar, warna dan musik.

Hemisfer yang berperan dalam proses urutan dan analisa disebut Hemisfer katagorikal. Hemisfer ini berfungsi dalam visuospasial dan hemisfer representasional. Kemampuan berbahasa terutama berkembang pada katagorikal. Dominasi atau laterisasi ini berkaitan dengan penggunaan tangan visi yang dominan (96% orang yang menggunakan tangan kanan). Fungsi Hemisfer visuospasial mampu menginterpretasikan reaksi parsial, peta, geometric, prosody yaitu komponen percakapan yang membantu menekankan suatu makna contohnya ada melodi impleksi, intonasi dan pemberhentian dalam menyusun narasi.

Fungsi Laterisasi terjadi secara serentak pada seluruh bagian kognitif. Kemampuan ini meliputi anatomi pada hemisfer kiri dan kanan. Walaupun pada umumnya orang mengatakan bahwa hemisfer kiri lebih dominan dalam kemampuan bahasa namun dalam kenyataannya hemisfer kanan memiliki bagian Broka yang berfungi untuk menghasilkan bunyi seperti mengatur irama, tekanan pada suku kata tertentu. Proses ini berkembang dan mengalami penyesuaian secara plasitisitas tergantung  intervensi pada masa anak-anak.

 

    6.MASALAH SINTESA

Dalam memasuki tahapan ini pada umumnya seorang anak harus dapat berpikir abstrak setelah memasuki usia 12 tahun. Pada tahapan ini anak akan diajarkan untuk tidak memandang solusi secara kaku dan tertutup. Anak akan diajarkan bagaimana caranya menjelaskan suatu hubungan struktur, pola hubungan dengan membuat kesimpulan atau solusi dengan kalimat sendiri bedasarkan sudut pandangnya. Anak slow learner akan diminta membuat kesimpulan dengan mengarang sendiri kalimat dan disesuaikan dengan skema berpikirnya sehingga lebih mudah di dalam proses penyimpanan memorinya. Hal ini berkaitan dengan proses internalisasi pemahaman dalam bahasa yang familiar di dalam memori. Dalam hal ini anak akan belajar membuat kalimat silogisme agar dapat membuat kesimpulan  secara deduktif atau induktif. Membuat kesimpulan dari persamaan makna yang ada dan  menghubung-hubungkannya. Keberhasilan pada tahapan ini akan membuat anak terampil dalam menyusun analogi pemahaman pada suatu permasalahan.

g 7
Gambar 7. Tahapan proses kognitif sintesa

 

Dalam Taksonomi Bloom (Anderson & Krathwohl, 2001) Tahapan Sintesa dibagi atas tiga kelompok: Similarities yaitu proses menyimpulkan konsep bedasarkan kesamaan sejumlah kata. Hipothesis: Kemampuan menyimpulkan sejumlah konsep secara abstrak menjadi suatu hipothesis. Membuat kesimpulan dengan kalimat sendiri dalam susunan SPOK Conclusion: Menyimpulkan dengan kalimat sendiri  yang dihubungkan dengan informasi dan teori yang mendukung sehingga menjadi suatu cerita yang menarik.

7.MASALAH EVALUASI.

Evaluasi adalah kemampuan anak untuk melakukan penilaian dari sejumlah pemahaman yang telah diperoleh (Bloom dalam Anderson & Krathwohl, 2001). Dalam tahapan ini seorang anak harus memiliki tidak hanya kemampuan dasar dalam berpikir tetapi juga strtagei dalam berpikir. Karena strategi berpikir akan membantu kecepatan seseorang di dalam melakukan  evaluasi. Dalam hal ini pelatihan ditunjukan untuk menghilangkan unsur subyektifitas sehingga memiliki obyektivitas dalam berpikir, karena kemampuan evaluasi merupakan proses pengujian kemampuan diri yang dapat dinilai juga oleh orang lain (Reynold, Miller & Weiner, 2009).

g 8
Gambar 8. Tahapan proses kognitif evaluasi

 

 

Bloom (Anderson & Krathwohl, 2001) membagi evaluasi dalam dua tahap, yaitu: Cheking dan kritik. Chek adalah kemampuan mendeteksi ketidakkonsistenan atau fallacies di dalam memproses produk, menentukan apasaja proses atau produk memiliki konsistensi internal. Mendeteksi keefektifan prosedur yan dapat diimplementasikan. Dengan mengkoordinasikan, mendeteksi, memonitoring dan testing. Kritik berguna untuk mendeteksi ketidak konsistenan antara produk dan kriteria eksternal, menentukan prosedur untuk memberikan sebuah problem. Dalam tahapan evaluasi seorang anak biasanya diberikan pelatihan dalam bentuk pertanyaan dengan jawaban yang terbuka dan tertutup.

                                                       8.MASALAH KREATIVITAS BERPIKIR

Kreatifitas berpikir menurut Conny Setiawan adalah suatu bentuk keberbakatan yang sifatnya genetik dan kognitif. Arti genetik disini adalah kemampuan tersebut diturunkan secara genetik. Sifat kognitif disini adalah kemampuan yang dapat dioptimalkan dengan pelatihan kognitif. Treffinger (Conny R. Semiawan, 2009) menjelaskan bahwa kreatifitas tidak hanya membutuhkan suatu kemampuan kognitif tetapi juga afektif. Kemampuan kognitif yang tinggi meliputi kemampuan memori, berpikir kritis, berpikir deduktif, analogi dan interferensi. Kemampuan afektif yang tinggi meliputi perasaan nyaman untuk mengembangkan rasio, perasaan, intuisi dan sensing yang membutuhkan  hubungan intimitas yang kondusif bersama orang disekelilingnya.

 

 

g 9
Gambar 9. Tahapan proses kognitif kreatifitas berpikir

 

Kemampuan afektif antara lain adalah Rasio, Perasaan, Intuisi dan Sensing

Keberhasilan pada tahap kreativitas menurut Gardner pada akhirnya akan mencapai suatu bentuk intelegensi yang berani mengambil resiko, memainkan peran yang positif, berpikir kreatif, merumuskan dan mendefinisikan masalah, tumbuh kembang dalam mengatasi masalah, toleransi terhadap masalah ganda, menghargai sesama dan lingkungan sekitar (A.Melani, 2011).

Oleh sebab itu bedasarkan keterbatasan yang dimiliki oleh anak slow learnersudah tentu harus segera diatasi dengan mengutamakan pemberian ketrampilan yang bersifat khusus. ketrampilan tersebut harus sesuai dengan tahapan kemampuan kognitif yang mereka miliki. tujuannya agar tercapai kemandirian untuk berkarya di masa depan.

 

Modul pembalajran komputer Multimedia

m1
Gambar 10. Modul Gambar 2D Multimedia
m2
Gambar 11. Modul Teks kedalam Multimedia
m3
Gambar 12. Modul Efek Khusus Multimedia
m4
Gambar 13. Modul Story Board Multimedia
m5
Gambar 14. Modul Sistem Operasi Pada Komputer
m6
Gambar 15. Modul Software Pengolah Kata
m7
Gambar 16. Modul Software SpreadSheet
m8
Gambar 17. Modul Software Presentasi
m9
Gambar 18. Modul Software Berbasis Data

Pembelajaran di Homeschooling  dan Kursus Multimedia Metakognisi

xxx

Iklan

Outing Siswa Paket A ke Taman Mini Indonesia

outing taman mini 1
Outing Siswa Paket A di Taman Mini Indonesia Indah (Homeschooling Metakognisi)

Siswa Paket A Homeschooling Metakognisi melakukan outing ke Taman Mini Indonesia Indah, Sabtu, 14 April 2018.  Acara ini didampingi oleh orang tua dan juga tutor dari Homeschooling Metakognisi.

Tujuan dari outing ini adalah untuk melakukan pembelajaran di luar kelas.  Siswa dapat melihat fenomena yang ada di masyarakat secara langsung serta menghubungkannya dengan materi pelajaran.

Outing yang dilakukan juga sebagai ajang rekreasi bagi siswa agar mereka tidak bosan dengan pembelajaran yang monoton di kelas.  Mereka dapat melakukan pembelajaran dengan suana yang menyenangkan di tempat rekreasi.

Hal ini menjadi penting bagi pembelajaran siswa karena siswa di Homeschooling Metakognisi adalah anak berkebutuhan khusus.  Diantaranya mereka mengalami borderline intellectual, borderline intellectual functioning, ADHD, autisme, dan lainnya. Pembelajaran yang menyenangkan penting bagi mereka untuk meningkatkan dan menjaga motivasi belajar.  Melalui outing ini, siswa merasakan suasana yang berbeda saat belajar dengan mengoptimalkan penginderaan.  Fenomena yang mereka amati di lapangan akan lebih berkesan dan menjadi sensasi yang berbeda dibandingkan pembelajaran di kelas.  Hal ini akan meningkatkan motivasi intrinsik dari siswa.

Acara ini dilakukan ke beberapa tempat di Taman Mini Indonesia.  Tempat tersebut yaitu Petualangan Dinosaurus, Teater Keong Emas, dan Museum Transportasi. Saat di Museum Transportasi, siswa melakukan pengisian lembar kerja yang telah disiapkan oleh tutor.

outing taman mini 2
Outing di Teater Keong Emas (Homeschooling Metakognisi)
outing taman mini 4
Outing di Teater Keong Emas (Homeschooling Metakognisi)
outing taman mini 5
Outing di Museum Transportasi (Homeschooling Metakognisi)
outing taman mini 3
Outing di Museum Transportasi (Homeschooling Metakognisi)

PELAYANAN INKLUSI TERLENGKAP DI PKBM METAKOGNISI

Anak Berkebutuhan Khusus dan Pelayanan Inklusi

inklusi

Anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di pendidikan inklusi perlu pendampingan dalam bentuk terapi yang berkelanjutan. Keterbatasan yang dimiliki anak bukan menjadi penghalang dalam memperoleh pendidikan, namun perlu penyesuaian terhadap hambatan yang dimiliki. Pendampingan ini tidak hanya disekolah namun juga dalam bentuk terapi. Melalui terapi yang diberikan kepada anak berkebutuhan khusus, diharapkan mereka mampu meningkatkan keterampilan dalam pendidikan formal inklusi yang diambil.

Anak berkebutuhan khusus didefinisikan sebagai anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka.

Salah satu pelayana inklusi yang diberikan adalah kepada anak yang mengalami masalah dalam tumbuh kembang.  Anak berkebutuhan khusus tersebut adalah anak dengan autisme, cerebral palsy, dyslexia, ADHD, down syndrome, borderline intellectual.

Pendidikan inklusi adalah bentuk pendidikan yang menyatukan anak-anak berkebutuhan khusus dengan anak-anak normal pada umumnya untuk belajar. Pengertian pendidikan inklusi adalah sebuah pelayanan pendidik an bagi peserta didik yang mempunyai kebutuhan pendidikan khusus di sekolah regular ( SD, SMP, SMU, dan SMK) yang tergolong luar biasa baik dalam arti kelainan, lamban belajar maupun berkesulitan belajar lainnya.

Oleh karena itu pelayanan pendidikan inklusi diharapkan tidak hanya memberikan materi akademis saja, namun juga memberikan pelayanan terapi. Pelayanan yang terintegrasi antara pendidikan akademis dan terapi diharapkan akan mengoptimalkan tumbuh kembang anak lebih baik.

Pelayanan Sekolah Inklusi Di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

20161102_122540

PKBM Metakognisi bekerjasama dengan Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu menyelenggarakan pendidikan inklusi untuk anak berkebutuhan khusus seperti borderline intellectual, down syndrome, dyslexia, dan autism. Pendidikan inklusi ini terintegrasi dengan pelayanan terapi yang diberikan kepada anak sesuai dengan jenis gangguan yang dialami.

Melalui pendidikan dan pelayanan terapi yang terintegrasi ini, anak berkebutuhan khusus akan mendapatkan dokumen akademis seperti raport dan ijasah . Mereka akan diikutsertakan dalam ujian kesetaraan yaitu Paket A (setara SD), Paket B (Setara SMP), dan Paket C (setara SMA). Pelayanan pendidikan ini akan disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan individu.

Pemeriksaan dan Terapi

IMG_20170313_160727_908

Disisi lain, anak berkebutuhan khusus perlu dilakukan pemeriksaan yang lengkap untuk mengetahui sumber gangguan. Diagnosa yang tepat berdasarkan pemeriksaan yang akurat akan sangat mendukung keberhasilan dan efektivitas terapi yang dilakukan.

Pemeriksaan yang dilakukan tidak hanya meliputi faktor psikologis semata. Namun juga faktor fisik atau fisiologi tubuh anak perlu diperhatikan juga. Pemeriksaan yang dilakukan di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu adalah pemeriksaan fungsi psikologi dengan test kesulitan belajar dan fungsi neurobiologi melalui EEG (elektroensefalografi). Jika dirasakan perlu adanya pemeriksaan lanjut, maka akan dirujuk untuk pemeriksaan MRI atau pencitraan otak yang lebih lengkap. Hasil pemeriksaan lengkap ini akan menentukan jenis terapi apa saja yang perlu dilakukan. Adapun terapi yang dilakukan antara lain adalah terapi neurofeedback, terapi metakognitif, fisioterapi, sensori integrasi, dan computer interaktif.

Pemeriksaan lengkap ini penting untuk melihat fungsi luhur atau system syaraf pusat atau otak yang terpengaruh akibat masalah berkebutuhan khusus ini. Dari pemeriksaan tersebut akan dilihat sejauh mana fungsi otak yang dapat dioptimalkan melalui terapi yang dilakukan. Oleh karena itu pemeriksaan dan terapi sejak dini atau dibawah 5 tahun dari anak berkebutuhan khusus akan memperbaiki fungsi otak lebih optimal.

Pemeriksaan dan terapi medis untuk anak berkebutuhan khusus di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dilakukan dengan bekerjasama dengan RSPAD Gatot Subroto dan Klinik Biosel Belmont. Pemeriksaan berupa MRI dan juga intervensi medis seperti akupuntur laser dan terapi sel punca (stem cell) dilakukan di kedua instansi tersebut. Intervensi medis dilakukan untuk memperbaiki struktur sel yang rusak atau terpengaruhi akibat masalah berkebutuhan khusus sehingga fungsi fisiologi dan psikologi nya akan terperbaiki.

Terapi Neurofeedback

Proses EEG

Terapi neurofeedback diberikan untuk melatih keseimbangan antara pikiran dan perasaan anak. Anak yang mengalami gangguan emosi kurang mampu mengendalikan pikiran dan perasaannya, sehingga perlu dilatih dengan neurofeedback dengan alat bantu EEG (elektroensefalografi). Neurofeedback adalah sejenis biofeedback yang mengukur gelombang otak untuk menghasilkan sinyal yang bisa dijadikan umpan balik untuk mengajarkan pengaturan fungsi otak sendiri.

Neurofeedback biasanya diberikan dengan menggunakan video atau suara, dengan umpan balik positif untuk aktivitas otak yang diinginkan dan umpan balik negatif untuk aktivitas otak yang tidak diinginkan. Pada pelatihan neurofeedback di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu, individu akan dihubungkan dengan perangkat EEG melalui Bluetooth dengan beberapa aplikasi untuk melatih fokus atau meditasi. Contohnya adalah pelatihan dimana individu harus “fokus” atau “bermeditasi” untuk mencapai suatu tujuan.  Pelatihan ini akan mengukur dan melatih mental individu dari gelombang otak yang diolah oleh aplikasi neurofeedback. Pelatihan ini melatih kemampuan individu dalam mempertahankan keseimbangan antara emosi dan pikirannya dalam keadaan sadar.  Hal ini terlihat bagaimana menyeimbangkan antara meditasi dan fokus pada saat yang bersamaan.

Terapi metakognitif.

Jpeg

Intervensi atau terapi metakognitif adalah latihan untuk melibatkan kemampuan belajar, menyimpan, dan memanggil informasi dan melibatkan kemampuan belajar, ketrampilan organisasi dan manajemen waktu, ketrampilan test tasking, ketrampilan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan (Solanto et al., 2010). Dalam praktek penerapan metode metakognisi adalah sebagai berikut.  Anak akan diberikan pengetahuan tentang tujuan penggunaan metode tersebut, yaitu bagaimana mengendalikan proses kognitif dan aplikasinya dalam situasi belajar nyata (Smith & Strick, 1999).  Intervensi metakognitif dapat diberikan kepada anak dengan pemberian makna bahwa kapasitas kognitif anak sama seperti orang dewasa. Terapi metakoognitif yang dilakukan dengan metode MMI.

Tahapan Melani’s Metacognition Intervention (MMI) Untuk Terapi Anak Kesulitan Belajar yaitu dengan tida teknik terapi psikologi. Intervensi Metakognitif bekerja dengan pendekatan tiga teknik terapi psikologi (Client-centered Therapy, Behaviouristic Therapy, dan Metacognitive Therapy).   Metode Metakognitif menggunakan pendekatan belajar seperti pada sekolah umum yaitu membaca, menulis dan menceritakan kembali. Untuk mencapai target dari intervensi (perubahan dalam kognitif, emosional, dan perilaku), dibutuhkan media buku cerita dengan tema sosial intelegensi yang didalamnya menceritakan mengenai tentang cara berempati, bersimpati, ketulusan, pengorbanan, kekeceawaan, kesedihan, keceriaan dan lain-lain.

Fisioterapi

Fisioterapi Akupuntur Listrik setara akupuntur 1000 jarum

Fisoterapi ini mampu meningkatkan fungsi fisiologi syaraf pusat dan tepi sehingga mampu meningkatkan  sensitivitas tactil.  Fisioterapi yang dilakukan adalah dengan menggunakan akupuntur listrik atau elektro akupuntur.  Teknik ini setara dengan 1000 jarum akupuntur namun tidak  menimbulkan rasa sakit serta aman bagi anak.

Melalui bantuan teknik akupuntur listrik ini, tumbuh kembang fisiologi tubuh anak dioptimalkan sehingga mampu  meningkatkan sensitivitas tactil, social initiation, receptive language, motor skills, coordination, dan rentang perhatian. Berdasarkan penelitian, alat ini dapat secara efektif meredakan gejala autisme anak dan meningkatkan kecerdasan, kemampuan bahasa, dan  kemampuan sosial adaptif.

 

Terapi Sensori Integrasi

Jpeg

Bagi anak berkebutuhan khusus yang masih mengalami gangguan perilaku dapat diperbaiki dengan terapi sensori integrasi. Hal dikarenakan anak berkebutuhan khusus seperti autis, mengalami masalah sensory processing disorder atau sensory integration dysfunction. Sensori integrasi adalah proses saraf yang melibatkan penerimaan, pengelompokkan, dan evaluasi dari informasi indrawi melalui modalitas seperti penglihatan dan pendengaran, serta memproduksi respon adaptif melalui impuls saraf yang disalurkan kepada saraf motorik. Oleh karena itu anak yang mengalami masalah sensori integration dysfunction atau sensori processing disorder memiliki masalah dalam penerimaan, pemerosesan, dan merespon informasi dari lingkungan.

Semua informasi yang kita terima tentang dunia, datang melalui sistem indera atau sensori. Karena banyak proses sensorik terjadi di dalam sistem saraf pada tingkat tidak sadar, kita biasanya tidak menyadarinya. Meskipun kita semua terbiasa dengan indra yang terlibat dalam rasa, bau, penglihatan, dan suara, namun kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa sistem saraf kita juga merasakan sentuhan, gerakan, gaya gravitasi, dan posisi tubuh.

Sama seperti mata yang mendeteksi informasi visual dan menyampaikannya ke otak untuk interpretasi, semua sistem sensorik memiliki reseptor yang mengambil informasi untuk dirasakan oleh otak. Sel di dalam kulit mengirimkan informasi tentang cahaya, sentuhan, rasa sakit, suhu, dan tekanan. Struktur dalam tubuh mendeteksi gerakan dan perubahan posisi kepala. Komponen otot, sendi, dan tendon memberi dan kesadaran akan posisi tubuh.

Anak berkebutuhan khusus yang mengalami gangguan perilaku mengalami masalah penginderaan tersebut. Hal ini berakibat kepada perilakunya yang sering tidak sesuai dengan tuntutan dari lingkungan. Melalui terapi sensori integrasi ini, penerimaan, pemerosesan, dan respon tubuh dari anak dilatih agar sesuai dengan konteks yang ada.

Interaktif Komputer.

CD interaktif

Melalui pelatihan interaktif computer, anak berkebutuhan khusus dilatih pemahaman konsep pelajaran dengan mudah. Proses pelatihan ini menggunakan media audio visual yang melatih konsep dan pemahaman materi pelajaran secara konkret dari gambar dan animasi yang ditampilkan. Proses belajar bagi anak menjadi mudah dan sesuai dengan keunikan individu sehingga memunculkan motivasi dalam belajar.  Pelatihan yang diberikan dengan meningkatkan kemampuan visual perception anak  dari media audio visual.

Untuk informasi dan pendaftaran pelayanan inklusi di Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dapat menghubungi sdr. Agus (08561785391 wa/sms/telp). (Ags/PKBM METAKOGNISI)

Pendidikan Inklusi di PKBM Metakognisi dan Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu

inklusi

Setiap individu berhak mendapatkan pendidikan meski mengalami hambatan (PKBM METAKOGNISI)

 

Pemerintah Republik Indonesia, khususnya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah memberikan ruang pendidikan bagi anak berkeutuhan khusus dalam bentuk sekolah inklusi. Hal ini penting untuk memberikan pelayanan atas hak asasi invidu dalam memperoleh akses pendidikan, terlepas mereka mengalami kekurangan. Di sisi lain anak yang mengalami gangguan perkembangan, seperti autisme, cerebral palsy, mental retardation, borderline intellectual functioning juga harus diakomodir kebutuhan pendidikannya melalui sekolah inklusi.

Hal ini penting, karena pendidikan merupakan pintu gerbang untuk meningkatkan kualitas hidup individu. Anak berkebutuhan khusus juga perlu mendapatkan keterampilan dasar yang diperoleh di institusi pendidikan seperti membaca, berhitung, dan pengetahuan lainnya agar mereka dapat survive di kehidupannya. Keterampilan tersebut diperoleh di pendidikan dasar dan menengah, yaitu tingkatan SD, SMP, dan SMA. Dimana pada tingkatan ini juga diajarkan anak untuk melatih kemampuan berpikir seperti logika, pemahaman, analisa, sintesa, kreativitas berpikir, dan komunikasi yang penting dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, berkebutuhan khusus juga berhak mendapatkan pendidikan sekolah dalam bentuk pelayanan inklusi. Pelayanan yang diberikan nantinya materi belajar akan disesuaikan dengan kemampuan anak. Namun dengan pelayanan inklusi ini, anak akan memperoleh ijasah dimana dapat melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Hal ini juga penting bagi anak untuk memperoleh kecapakan hidup serta administrasi kependudukan seperti Surat Izin Mengemudi (SIM) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP)

20161102_122602[1]

 

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu bekerjasama dengan PKBM Metakognisi memberikan pelayanan pendidikan inklusi kepada anak kebutuhan khusus dan kesulitan belajar. Anak dengan autisme, mental retardation, borderline intellectual functioning, cerebral palsy dan masalah perkembangan lainnya dapat memperoleh pendidikan yang disesuaikan dengan kemampuan anak. Pelayanan pendidikan ini berupa sekolah Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP), dan Paket C (setara SMA).

Pelayanan pendidikan inklusi ini terintegrasi dengan terapi untuk anak berkebutuhan khusus. Pelayanan pendidikan di bawah naungan PKBM Metakognisi dan pelayanan intervensi atau terapi dari Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu terjadi secara parallel serta terintegrasi. Sehingga diharapkan anak akan terpenuhi hak pendidikannya serta tetap menjalani terapi dalam satu atap.   Hal ini mempermudah dalam koordinasi antara terapis dengan guru, serta pengawasan terhadap perkembangan anak.

Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dan PKBM Metakognisi membuka pendaftaran siswa baru bagi anak berkebutuhan khusus. Siswa dengan autisme, mental retardation, borderline intellectual functioning,   cerebral palsy, dan masalah perkembangannya lainnya dapat mendaftarkan diri untuk belajar dan sekaligus menjalani proses terapi di PKBM Metakognisi dan Klinik Psikoneurologi Hang lekiu. Pendaftaran dibuka dari 1 April – 1 Agustus 2018. Untuk informasi dan keterangan lebih lanjut dapat menghubungi sdr. Agus (08567185391 WA/SMS/Telp).

Pembelajaran Interaktif Di Homeschooling Metakognisi

Anak kesulitan belajar pada umumnya mengalami hambatan dalam pemerosesan informasi.  Hal ini menyebabkan mereka mengalami banyak kegagalan dalam pencapaian akademisnya.  Oleh karena itu kegiatan belajar mengajar bagi anak kesulitan belajar harus dapat mengakomodasi hambatan yang mereka alami.

Salah satu bentuk pembelajaran yang dilakukan adalah dengan menggunakan media audio visual.  Siswa dengan kesulitan belajar akan lebih cepat memahami materi jika penyajian materi yang diberikan dibuat lebih mudah dan sesuai dengan karakteristik mereka. Oleh karena itu pembelajaran di Homeschooling Metakognisi dilakukan secara dinamis dan menyesuaikan dengan kondisi fisik dan psikologis anak.

Salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan adalah dengan membuat penyajian visual dari materi pembelajaran oleh peserta didik.  Siswa dapat membuat rangkuman materi yang sederhana, ringkas, dan menarik untuk dapat meningkatkan minat belajar siswa.

Berikut adalah proses kegiatan belajar mengajar dengan membuat materi rangkuman visual oleh siswa dalam bentuk majalah dinding di homeschooling Metakognisi pada tingkatan SD.

WhatsApp Image 2017-11-09 at 10.13.41
Gambar 1. Pembuatan majalah dinding oleh siswa kelas 4 SD Homeschooling Metakognisi 

 

WhatsApp Image 2017-11-09 at 10.13.42
Gambar 2. Pembuatan majalah dinding oleh siswa Homeschooling Metakognisi

 

WhatsApp Image 2017-11-09 at 10.13.45
Gambar 3. Pembuatan majalah dinding oleh siswa Homeschooling Metakognisi

Berikut hasil karya peserta didik Homeschooling Metakognisi dalam pembuatan majalah dinding pada tingkatan SD.

WhatsApp Image 2017-11-09 at 12.10.00
Gambar 4. Hasil karya majalah dinding siswa Homeschooling Metakognisi

 

WhatsApp Image 2017-11-09 at 12.10.04
Gambar 5. Hasil karya majalah dinding siswa Homeschooling Metakognisi

 

WhatsApp Image 2017-11-09 at 12.10.06
Gambar 6. Hasil majalah dinding siswa Homeschooling Metakognisi

Kelulusan Paket A dan Paket B di Homeschooling Metakognisi Tahun Ajaran 2016-2017 Mencapai 100%

Tahun ajaran 2016/2017 telah berakhir dan ditandai dengan kenaikan kelas serta kelulusan peserta didik PKBM atau Homeschooling  Metakognisi di Paket A, B, dan C.

Setelah kelulusan Paket C atau setara dengan SMA, maka di bulan Juni ini, PKBM Metakognisi juga meluluskan peserta didik di tingkat Paket A dan B.  Dimana Paket A atau setara dengan SD pada tahun ajaran ini meluluskan 3 peserta didik dan Paket B atau setara dengan SMP meluluskan 3 peserta didik.

Jpeg
Suasana ujian sekolah Paket B dengan peserta dari PKBM atau Homeschooling Metakognisi sebagai penentu kelulusan dari peserta didik (Homeschooling Metakognisi)

 

IMG-20170505-WA0007
Suasana ujian sekolah dari Paket A atau setara SD sebagai penentu kelulusan (Homeschooling Metakognisi)

Pengumuman kelulusan Paket B atau setara SMP dilakukan pada 5 Juni 2017 dan kelulusan Paket A atau setara SD dilakukan pada  14 Juni 2017.  Pengumuman kelulusan dilakukan di PKBM Metakognisi atau Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu dengan presentasi kelulusan peserta didik Paket A dan Paket B adalah 100%.

Kerja keras tutor dan peserta didik paket A dan B telah terbayarkan dengan kelulusan yang mencapai 100%.  Syarat kelulusan adalah perpaduan dari rata-rata nilai raport dari kelas 4-6 untuk SD atau Paket A, kelas 7-9 untuk SMP atau Paket B dan nilai ujian sekolah dengan komposisi 70% nilai raport dan 30% nilai ujian sekolah. Dimana syarat kelulusan peserta didik adalah tidak ada angka di bawah 60 untuk rata-rata semua mata pelajaran, tidak ada angka 55 atau kurang di setiap mata pelajaran, serta mengikuti ujian nasional berbasis komputer (UNBK) untuk Paket B dan USMBD untuk Paket A.

Selamat kepada peserta didik PKBM atau Homeschooling Metakognisi untuk tingkatan SMP dan SD.  Semoga sukses di tingkat yang selanjutnya! (ags/Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu)

Penerimaan Siswa Baru Tahun Ajaran 2017-2018 Homeschooling Metakognisi

Anak kesulitan belajar seperti ADHD, ADD, slow learner, manic-depressive, Dyslexia jika tidak diintervensi sejak dini maka permasalahannya menjadi komplek.  Anak kesulitan belajar yang tidak tertangani tersebut bisa comorbid dengan depresi dan masalah klinis lainnya.  Sehingga mereka tidak mampu mengikuti tuntutan dari sekolah formal.

Permasalahan tersebut akan semakin menumpuk pada usia remaja, yaitu siswa SMP dan SMA dimana dapat menjadi gangguan emosional dan perilaku.  Salah satu permasalahan tersebut adalah siswa menjadi enggan untuk bersekolah dan mengurung diri di rumah.  Bila hal ini terjadi, maka perlu penanganan yang menyeluruh dimana masalah psikologis tertangani namun pendidikannya tidak tertinggal.

Salah satu pelayananan dari Klinik Psikoneurologi Hang Lekiu adalah Homeschooling Metakognisi.  Pelayanan yang diberikan adalah pelayanan menyeluruh antara terapi psikologis dan ketersedian legalitas pendidikan siswa.

Tahapan seleksi

Siswa yang bergabung di Homeschooling Metakognisi terlebih dulu dilihat permasalahan akademis dan psikologis yang dialami.  Siswa akan dites dan diobservasi terkait masalah kesulitan belajar yang yang terjadi.  Berdasarkan hasil test, observasi, dan permasalahannya seperti siswa sulit untuk mengikuti tuntutan sekolah formal, seperti kehadiran di kelas, kriteria ketuntasan minimum (KKM) mata pelajaran, ataupun permasalahan sosialisasi akan dirujuk untuk terapi secara penuh dan dipulihkan permasalahannya melalui pendidikan alternatif atau homeschooling.

Seleksi anak usia dini
Seleksi berupa test psikologi pada anak usia dini untuk melihat kesiapan belajar siswa serta gangguan yang dialami (Homeschooling Metakognisi)

Pelayanan Pendidikan

Siswa yang tergabung di Homeschooling Metakognisi akan menjalani terapi metakognitif dan terapi lainnya hingga permasalahannya menjadi tuntas.  Pembelajaran dilakukan dengan seminggu 4 kali pertemuan selama 2  – 4 jam.  Siswa akan belajar materi yang sama dengan materi yang diberikan pada sekolah formal dengan kurikulum nasional.

Siswa Homeschooling atau PKBM Metakognisi akan mendapatkan perlakuan yang setara dengan sekolah formal di tiap tingkatan yaitu SD, SMP, dan SMA.  Siswa akan dievaluasi setiap semesternya dan disajikan dalam bentuk raport.  Selain itu, siswa pada tingkatan akhir akan menempuh ujian nasional kesetaraaan Paket A untuk tingkatan SD, Paket B untuk tingkatan SMP, dan Paket C untuk tingkatan SMA, yang diselenggarakan oleh pemerintah dan mendapatkan ijasah.  Ijasah tersebut dapat digunakan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

20161102_122540
Ruang kelas dan kegiatan belajar dan mengajar dari siswa Homeschooling Metakognisi untuk tingkatan SMP da SMA (Homeschooling Metakognisi)

Profil Homeschooling Metakognisi

Homeschooling Metakognisi sudah berbadan hukum dibawah Yayasan Melani Metakognisi Indonesia sejak tahun 2012.  Ijin operasional penyelenggaraan pendidikan terdaftar dengan nomor 003/1151/317407/-1.851.33.  PKBM Metakognisi memiliki Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) yang terdaftar di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu P9948188.

Pendaftaran Siswa Baru.

Pendaftaran siswa baru periode 1 dibuka Mei 2017 – Agustus 2017.  Untuk pendaftaran siswa baru dapat menghubungi sdr. Agus (08561785319) atau Muhbikun (082213386726).